
Jangan pernah menganggap enteng minyak bekas menggoreng, atau yang biasa disebut dengan minyak Jelantah. Penggunaannya yang beragam dapat membuahkan hasil yang berbeda. Minyak bekas menggoreng ini dapat menjadi sangat berbahaya bagi tubuh. Sebaliknya, jelantah dapat menjadi ’penyelamat’ lingkungan apabila digunakan dengan tepat.
Minyak bekas penggorengan yang dibuang begitu saja dapat mencemari lingkungan. Jenis formulasi yang terkandung di dalam jelantah tersebut tidak dapat larut di dalam air sehingga limbahnya mencemari air dan tanah. Lebih berbahaya lagi jika minyak jelantah dipakai ulang hingga 3 atau 4 kali penggorengan. Kandungan asam lemak jenuh yang sangat tinggi pada minyak ini dapat menyebabkan kolesterol, hipertensi, penyumbatan peredaran darah, serta memicu kanker (sumber: dr. R.B. Bambang Witjahjo).
Hal berbeda dilontarkan oleh Safriadi, Perekayasa di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Beliau memandang minyak jelantah sebagai bahan bakar alternatif untuk kompor yang ramah lingkungan, karena termasuk dalam kelompok sumber energi dari nabati yaitu biodiesel. Sumber energi ini dapat dimanfaatkan di tengah kelangkaan elpiji yang kadang terjadi, harga minyak tanah yang melambung, serta tidak tersedianya minyak jarak (seperti yang telah dipromosikan oleh Pemerintah).
”Limbah minyak goreng (weste of vegetable oil) berpotensi menjadi alternatif energi bahan bakar nabati yang ramah lingkungan dan mampu menurunkan 100 % emisi gas buangan Sulfur dan CO2 serta CO sampai dengan 50 %”, ujar Safriadi. Beliau juga menyatakan bahwa biodiesel ini mampu mengurangi pencemaran lingkungan sehingga mendukung program Pemerintah tentang pemanfaatan bahan bakar nabati sebagai bahan bakar ramah lingkungan, sesuai Inpres No.1 / 2006.
Kompor berbahan bakar minyak Jelantah memliki keseimbangan karbon dioksida netral sehingga meminimalkan risiko kompor meledak. Minyak jelantah hanya akan terbakar / meledak jika suhunya di atas 300 derajat celcius. Pihak BPPT berharap teknologi ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.




