Sabtu, 23 Januari 2010

Bahaya dan Manfaat Minyak Jelantah


Jangan pernah menganggap enteng minyak bekas menggoreng, atau yang biasa disebut dengan minyak Jelantah. Penggunaannya yang beragam dapat membuahkan hasil yang berbeda. Minyak bekas menggoreng ini dapat menjadi sangat berbahaya bagi tubuh. Sebaliknya, jelantah dapat menjadi ’penyelamat’ lingkungan apabila digunakan dengan tepat.
Minyak bekas penggorengan yang dibuang begitu saja dapat mencemari lingkungan. Jenis formulasi yang terkandung di dalam jelantah tersebut tidak dapat larut di dalam air sehingga limbahnya mencemari air dan tanah. Lebih berbahaya lagi jika minyak jelantah dipakai ulang hingga 3 atau 4 kali penggorengan. Kandungan asam lemak jenuh yang sangat tinggi pada minyak ini dapat menyebabkan kolesterol, hipertensi, penyumbatan peredaran darah, serta memicu kanker (sumber: dr. R.B. Bambang Witjahjo).
Hal berbeda dilontarkan oleh Safriadi, Perekayasa di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Beliau memandang minyak jelantah sebagai bahan bakar alternatif untuk kompor yang ramah lingkungan, karena termasuk dalam kelompok sumber energi dari nabati yaitu biodiesel. Sumber energi ini dapat dimanfaatkan di tengah kelangkaan elpiji yang kadang terjadi, harga minyak tanah yang melambung, serta tidak tersedianya minyak jarak (seperti yang telah dipromosikan oleh Pemerintah).
”Limbah minyak goreng (weste of vegetable oil) berpotensi menjadi alternatif energi bahan bakar nabati yang ramah lingkungan dan mampu menurunkan 100 % emisi gas buangan Sulfur dan CO2 serta CO sampai dengan 50 %”, ujar Safriadi. Beliau juga menyatakan bahwa biodiesel ini mampu mengurangi pencemaran lingkungan sehingga mendukung program Pemerintah tentang pemanfaatan bahan bakar nabati sebagai bahan bakar ramah lingkungan, sesuai Inpres No.1 / 2006.
Kompor berbahan bakar minyak Jelantah memliki keseimbangan karbon dioksida netral sehingga meminimalkan risiko kompor meledak. Minyak jelantah hanya akan terbakar / meledak jika suhunya di atas 300 derajat celcius. Pihak BPPT berharap teknologi ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

12 komentar:

amanda mengatakan...

padahal makanan seperti penyet, gorengan pke minyak jelatah dannnnn itu kan jd makanan favorit kebanyakan orang, aku jugaaa :p

dyTh, mengatakan...

iyaa
makanya ituu..kayanya masalah sepele
tnyata bisa memicu kanker hii serem

tahookopong mengatakan...

penyet ki pake jelantah yo??

oke.. sebenernya manfaatnya udah dipraktekkin sama sesepuh kita lho..

kata mbahku, dulu kalo malem, nyalain lampu sentir, dan itu bukannya pake minyak tanah tapi pake jelantah itu..
nice post

*dan aku pun semakin TAHU*
komen blogku juga dit!

ochiopiopio mengatakan...

BIG NO minyak jelantah deeh kalo bisaa...
daripada daripada mending kan mencegah.. hehehe.. :D

dyTh, mengatakan...

@tahu:semakin tahu?haha g usah promosi ya pliss
ahh orang jaman dulu memang hebat hu,mereka tu sebenernya inovatif yaa haha
@ocoy:iyaa kalo di lingkup keluarga bisa aja mencegah,tapi kalo jajan diluar mana kita tau kan yaa,masa mau ngecek dapurnya satu satu kn g mgkn juga

Naila mengatakan...

wah makasi yaa aq jd makin tw bahaya na gara2 posting inii :)

Anisa Setya Arifina mengatakan...

kayaknya kalo gak salah minyak jelantah juga dulu dipake buat pijet,,tapi kayaknya sekarang udah gak ada orang yang pke buat pijet,,kan sekarang uda ada balsem, minyak kayu putih...bayangin minyak jelantah diolesin ke kulit kita...uhuk serem...

tapi ternyata bisa buat bahan bakar...bisa mengurangi limbah yang ada di dunia...

Anonim mengatakan...

mo tanya neh, apakah minyak jelanta bisa dijadikan sebagai bahan baku utk pemnbuatan sabun ?

Anonim mengatakan...

kontol lah

Anonim mengatakan...

itha : mbak,, knpa ga dibahas masalah angka peroksida dalam minyak jelantah ???
I need it.. help plis.... :)
thanks alot...

biologi lover mengatakan...

wahh,,, qta hrus pandai2 dalam menjaga kesehatan

Anonim mengatakan...

manfaat dri minyak jelantah ada algi gak ???

Posting Komentar