Rabu, 30 Desember 2009

Mengurai Benang Ruwet Kemacetan di Kalibanteng

Kemacetan di Kalibanteng, Semarang semakin hari hari bertambah parah. Pagi, siang, sore apalagi menjelang hari libur panjang, kemacetan sangat terasa dengan antrean panjang kendaraan hingga Penerbad di Jalan Hanoman. Pemkot Semarang selalu mengajukan solusinya berupa pembangunan fly over.

Padahal pembangunan fly over memerlukan biaya yang besar di tengah krisis pembiayaan APBN/APBD yang memerlukan penghematan di banyak sektor. Yang lebih penting, pembangunan fly over memerlukan waktu pengerjaan minimal 1 tahun, yang pada ujungnya akan memperparah kemacetan di Kalibanteng.

Diperlukan solusi terobosan yang efisien dan efektif untuk mengurai kemacetan dalam tempo yang secepatnya. Semarang dengan jargon kota ATLAS akan tercoreng bila tidak mampu mengatasi kemacetan di sisi barat Kota Semarang secara terpadu.

Solusi pertama, optimalkan jalan tol Krapyak-Jatingaleh. Seluruh bus (kecuali bus kota), truk dan kendaraan berat lainnya dari arah barat yang menuju Purwodadi dan Demak termasuk ke arah Pelabuhan Tanjung Mas, dialihkan ke jalur tol tanpa pandang bulu. Ada resiko penambahan jarak tempuh, namun dalam perbandingan waktu tempuh akan sepadan karena jarak tempuh dari jalan Hanoman hingga bundaran Kalibanteng bisa memakan waktu setengah jam lebih.

Solusi kedua, tutup bundaran Kalibanteng hingga dua arah dari barat-timur saja. Dari arah arteri tidak boleh langsung ke kalibanteng tapi harus melewati Jalan Anjasmoro. Dari bandara harus masuk ke arah arteri, bila akan memutar ke arah barat atau selatan maka dapat memutar di jalan Anjasmoro. Sehingga arus dari arah barat akan lancar tidak terhambat arus dari bandara, arteri, Manyaran dan Pamularsih. Arus dari timur, Pamularsih atau Manyaran yang biasanya dapat memutar di bundaran Kalibanteng, kini harus memutar ke barat dulu di depan Keerkoft. Arus dari barat yang akan ke Manyaran dan Pamularsih disarankan ke lewat jalan Muradi.

Solusi ketiga, pembukaan trayek bus baru Mangkang-Penggaron, dan Mangkang-Terboyo lewat tol. Banyak karyawan yang bekerja di sisi barat namun bertempat tinggal di sisi timur Semarang, dan sebaliknya yang bekerja di sisi timur namun berdomisili di sisi barat Semarang. Penumpang bus arah barat selama ini banyak yang turun di Kalibanteng sehingga membentuk terminal bayangan.

Solusi keempat, pembukaan trayek angkutan baru yang melayani jalur padat penduduk dan padat pabrik sehingga orang dapat beralih dari penggunaan sepeda motor ke angkutan umum. Tanpa disadari, penggunaan sepeda motor di jalan raya kini meningkat tajam. Di samping irit biaya , penggunaan sepeda motor juga irit waktu karena tidak perlu oper angkutan beberapa kali. Namun di sisi lain pemakian sepeda motor menambah keruwetan lalu lintas yang pada ujunnya dapat menambah angka kecelakaan lalu lintas.

Demikian sedikit saran dan solusi semoga bermanfaat. Pada prinsipnya solusi kemacetan tidak harus berbentuk pembangunan fisik yang menelan biaya besar, namun dapat mengubah arus lalu-lintas yang efektif. Memang pembangunan fly over diperlukan namun kemacetan telah sedemikian mendesak untuk di atasi.

sumber : Sapto Ariyanto, SST, Ak

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Kalau saya, bundaran ditengah kalibanteng dikecilkan, dipasang rambu dan tindak tegas siapa saja yang berhenti di dekat traffic light

Posting Komentar